KUPAT
Salah satu menu favorit Kang Rohmad adalah kupat dengan berbagai varian olahannya seperti kupat sableng (sableng = sate blengong), kupat glabed, kupat lengko sampai kupat bongkok. Walaupun tahu bahwa kupat dalam bahasa Indonesia dikenal dengan "ketupat" yang seharusnya memiliki empat sisi, namun Kang Rohmad tidak mempermasalahkan kalaupun lontong pun dianggap sebagai kupat.
Malam itu Kang Rohmad sedang melaksanakan tugas lapangan memantau aktivitas di sebuah rumah ibadah yang menurut salah satu warga sekitarnya cukup mengganggu karena menggunakan pengeras suara luar dengan volume yang sangat keras. Setelah sekilas melihat aktivitas di obyek pemantauan, dia pun mampir di sebuat warung untuk menikmati kupat glabed khas daerah itu. Bukan hanya untuk menikmati menu utama di warung itu, namun itu strategi Kang Rohmad untuk tetap memantau tingkat kebisingan suara dari rumah ibadah yang dikeluhkan oleh sang pelapor.
Secara tidak sengaja, pandangan Kang Rohmad tertuju pada sesuatu yang tergantung di gerobak dalam warung itu. Sekelompok benda yang terbuat dari janur (daun kelapa muda) yang dikenal dengan kupat. Banyak versi filosofi yang dinisbatkan pada kupat ini. Salah satunya kenapa kupat menjadi ikon atau simbol yang sering digunakan saat perayaan hari raya idul fitri. Karena kupat merupakan singkatan dari "laku papat" yaitu Lebar, Luber, Lebur dan Labur.
1. Lebar (selesai menjalankan tempaan / ujian)
Puasa merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan kualitas keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Puasa menjadi simbol kejujuran dalam ketaatan menjalankan perintah-Nya.
2. Luber (melimpah, memberi sedekah)
Hikmah utama dari pelaksanaan puasa adalah timbulnya kesadaran kemanusiaan terhadap masyarakat yang kurang mampu. Rasa lapar yang dirasakan oleh orang yang berpuasa akan menimbulkan empati terhadap mereka yang secara ekonomi belum bisa memenuhi kebutuhan dasarnya.
3. Lebur (menyatu karena sudah saling memaafkan)
Selain mengharapkan ampunan Tuhan Yang Maha Pengampun, permohonan maaf kepada sanak saudara dan handai taulan juga menjadi hal yang seyogyanya dilakukan oleh seluruh umat muslim setelah melaksanakan kewajiban puasa.
4. Labur (cat gamping berwarna putih, kembali pada kesucian / fitrah)
Kang Rohmad pun kembali ke alam sadarnya. Setelah melirik ke arah jam tangan sporty pemberian anak sulungnya yang telah menunjukkan jam 10 malam, dia pun memanggil pelayan warung untuk menghitung biaya yang harus dia bayar untuk seporsi kupat glabed, 3 tusuk sate jeroan dan satu gelas teh manis hangat. Ternyata setelah Kang Rohmad keluar, warung itupun ditutup oleh sang pemilik.
Komentar
Posting Komentar